Make your own free website on Tripod.com

Ma’rifat Sebagai Sarana Bertauhid

Ust. Abdullah Assegaff

Di dalam kehidupan ini manusia sering menjumpai kejadian-kejadian baik lahir mapun batin yang menyangkut diri kita. Terkadang kita ingin menyampaikan sesuatu yang kita alami kepada orang lain dan oleh karena itu dibutuhkan bahasa, maksudnya lewat bahasa tersebut kita menyampaikan informasi yang tersusun dalam kalimat-kalimat yang mempunyai makna. Tetapi terkadang informasi yang kita sampaikan melalui kalimat tersebut tidak seperti kejadian yang sesungguhnya atau hal-hal yang kita maksudkan. Misalnya kita menceritakan tentang musibah yang kita alami kepada orang lain, cerita tersebut kadang dapat mewakili apa yang kita alami tetapi sesungguhnya tidak mutlak atau tidak persis. Hal lain yang dapat disebutkan di sini seperti musibah-musibah yang menimpa kaum Muslimin di penjuru dunia.

Penderitaan-penderitaan kaum Muslimin tersebut dapat kita rasakan, tetapi yang kita rasakan dari penderitaan mereka sesungguhnya sangat jauh dari apa yang mereka alami. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kepekaan kita terhadap penderitaan kaum Muslimin, yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan (ma'rifat) terhadap kejadian atau musibah tersebut.

Pengetahuan (ma'rifat) merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Hal ini dimaksudkan agar setiap tindakan dan informasi yang kita sampaikan kepada orang lain mempunyai makna dan dasar yang kuat (berbobot). Sehingga kita dapat melihat bahwa syi'ar yang disampaikan oleh mukminin dan muslimin mempunyai kadar dan bobot yang berbeda, disebabkan oleh tingkat ma'rifat yang berbeda pula. Kalau kita kembalikan pada diri kita, kita dapat mengatakan bahwa diri kita adalah seorang Muslim, tetapi belum tentu sebagai seorang Mukmin, sebab untuk dapat menentukan bahwa seseorang itu Mukmin atau tidak, sulit dilakukan, karena keimanan seseorang menyangkut masalah hati. Akan tetapi terkadang kita dapat menentukan bahwa seseorang itu beriman atau tidak dengan melihat amal perbuatannya, yang merupakan cerminan dari keimanannya.

Seseorang untuk dapat dikatakan sebagai seorang Muslim cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Secara lahir atau makna bahasa, dua kalimat syahadat yang diucapkan oleh Imam Khomeini - rahmatullah 'alaihi - mempunyai arti bahasa yang sama dengan syahadat yang diucapkan oleh Salman Rushdie, kalau seseorang menilai syahadat dari segi arti bahasa, maka ia dapat mengecam tindakan Imam Khomeini yang memfatwakan hukuman mati bagi Salman Rushdie atau mengecam Salman Rushdie karena menulis ayat-ayat setan. Namun yang jelas makna dan bobot dari ucapan syahadat keduanya tentu saja sangat berbeda. Hal ini dapat kita lihat dari posisi yang dimiliki Imam Khomeini yang bertentangan dengan posisi Salman Rushdie.

Sekarang marilah kita melihat diri kita masing-masing, apakah syahadat yang kita ikrarkan mempunyai makna dan bobot tertentu atau hanya sekadar memiliki arti bahasa. Sebenarnya yang paling penting dari syahadat kita adalah Laa ilaaha illallaah, karena awal dari ibadah adalah ma'rifat, sedangkan asal dari ma'rifat adalah tauhid. Makna dari tauhid di sini adalah meniadakan batasan-batasan terhadap Allah SWT, sebab kita semua mengetahui bahwa segala sesuatu yang terbatas itu bukan khaliq melainkan makhluq. Kalau kita kembalikan pada diri kita, kalimat tauhid memiliki dua makna, yaitu makna nazhar atau argumentasi akal dan tauhid amal atau yang berhubungan dengan amal.

Tauhid terbagi menjadi empat bagian :

1. Tauhid Dzat
Yaitu bahwa Allah Swt itu esa, tidak membutuhkan apapun. Artiya semua hikmah apabila dikembalikan kepada Allah Swt, maka ia kembali kepada Dzat-Nya (bukan selain-Nya).
 
2. Tauhid Sifat.
Yaitu semua sifat Allah SWT itu kembali kepada dzat-Nya.
Kedua tauhid di atas sebenarnya adalah hujjah akal (nazhari). Artinya bagaimana kita dapat memisahkan bahwa segala sesuatu yang terbatas itu bukan tauhidiyyah.
 
3. Tauhid Ibadah atau Tauhid 'Amali.
Yaitu menyangkut amaliah atau perbuatan kita. Artinya bagaimana semua amal kita tujukan kepada Allah SWT.
Tauhid Dzat dan Tauhid Sifat mempunyai sifat yang tetap (statis). Sedangkan Tauhid Ibadah mempunyai sifat dinamis, seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur'an (QS.Fathir, 35 : 10). yang artinya : "Bahwa sesungguhnya semua kalimat thayyibah kembali kepada Allah SWT dan amal sholeh yang mengangkatnya.[kalimah thayyibah]."
 
4. Tauhid Af'ali.
Tujuan dari tauhidiyyah, yang merupakan asal dari ma'rifat, adalah mencinta dan membenci karena Allah SWT. Seperti sabda Rasulullah saaw : "Tidaklah di dalam Islam ini kecuali dua perkara, yaitu mencinta karena Allah dan membenci juga karena Allah". Seseorang saat bertauhid, dia harus memiliki daya tarik dan daya tolak terhadap dirinya. Sehingga pada saat kita mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah, berarti kita meniadakan semua yang dipertuhan oleh nafsu kita.

Berkata Imam Ali bin Abi Thalib A.S. : "Cukuplah kebodohan seseorang itu ketika dia tidak mengenal kadar dirinya". Karena jika kita tidak mengenal diri kita posisi kita atau di mana kita harus menempatkan diri kita. Semakin seseorang itu pandai tetapi tidak tahu di mana posisinya, maka semakin jauh ia akan tersesat. Salah satu contoh seseorang yang tidak mengenal posisinya ialah ketika ia tidak mengenal siapa lawan dan siapa kawan, siapa yang harus ia tarik dan siapa yang harus ia tolak.

Kalau kita mau menyadari, sesungguhnya lawan kita adalah Yahudi, karena mereka ini sangat pandai membuat ungkapan-ungkapan yang dapat membuat orang tertarik padahal ungkapan tersebut berbeda jauh dari aslinya (tahrif). Itulah sifat asli kaum Yahudi sejak zaman Nabi Adam as. sampai jaman Rasulullah Saww. Oleh sebab itu pada saat Rasulullah Saww hijrah ke Madinah,yang pertama dilakukan adalah mempersaudarakan kaum Muslimin. Hal ini disebabkan banyak orang Yahudi yang tinggal di pinggiran kota Madinah. Oleh sebab itu berapa banyak hadis yang menganjurkan kita untuk menjalin persaudaraan (mawaddah) di antara kaum Muslimin. Dan ironisnya kadang-kadang nazhar (akal) kita mendukung tetapi amaliah kita tidak mendukung sehingga kita tidak peka, batiniah kita tidak peka. Oleh karena itu kita sering terpengaruh oleh hembusan-hembusan harum Yahudi yang mematikan. Mereka, kaum Yahudi, selalu memunculkan perbedaan di antara kaum muslimin dan mematikan persamaannya. Oleh sebab itu Allah Swt berfirman dalam surah At-Taubah : 28 : "Sesungguhnya kaum musyrikin itu najis". Hal ini mempunyai hikmah supaya kita menjaga jarak terhadap mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) karena mereka tidak akan pernah puas sebelum kaum Muslimin menjadi pengikut mereka. Pengikut di sini bukan hanya berarti menjadi pemeluk agama mereka, tetapi pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatan kita mencerminkan keinginan mereka. Sehingga tidak jarang kaum Yahudi menjadi kawan kita sedangkan kaum Muslimin malah menjadi musuh kita, seperti makna ucapan Amirul Mukminin Imam Ali as di atas.

Hal itulah yang menyebabkan kita berkewajiban mencari ma'rifat. Pada saat kita mendengar panggilan ma'rifat dan kita mempunyai kekuatan, maka kita wajib menyambutnya. Dalam hal ini tidak ada hujjah (petunjuk) yang mengatakan bahwa kita hanya mengikuti orang tua kita, karena kebenaran datangnya tidak harus dari orang tua kita. Biarkan akal kita ini mengembara atau berhijrah. Seandainya kita sudah mendapatkan suatu kebenaran, marilah kita coba untuk beramal.

Kesimpulan dari pembicaraan ini adalah dalam kita bertauhid kita harus mengenal diri kita, seperti sabda Rasulullah Saww : "Siapa yang mengenal dirinya , maka ia akan mengenal Rabb-Nya". Ini disebut tauhid nazhar. Sedangkan bentuk tauhid 'amali ialah dengan mengenal diri kita, kita akan tahu siapa yang harus kita singkirkan dan siapa yang harus kita rangkul. Akhirnya kita akhiri bahasan ini dengan mengucapkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad Rasulullah Saww beserta keluarganya.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin.