Make your own free website on Tripod.com

Memahami Kembali Peradaban Islam

Ust. Husein Al-Kaff

Berbicara tentang peradaban sangat menarik (interestable), karena ia menjadi bagian dari kehidupan umat manusia yang signifikan. Sejarah manusia penuh dengan berbagai peradaban yang silih berganti, tergantung para penguasa dan para pemimpin dunia. Mereka yang kuat akan menentukan model peradaban umat manusia. Apalagi di era global ini, model peradaban hampir menjadi seragam karena sekat-sekat teritorial, nasional, budaya, agama, dan ras tidak mampu membentengi dirinya dari upaya memasarkan model peradaban yang menjadi trend di pihak-pihak yang kuat dan berkuasa. Sehingga pada gilirannya, corak-corak budaya, agama, nasional, dan ras menjadi luntur dan akhirnya hancur, kemudian diganti dengan model paradaban yang mendunia.

Pergulatan peradaban dan budaya selalu terjadi sepanjang zaman. pergulatan ini meninggalkan ekses-ekses bagi yang menang maupun yang kalah. Sebagian dari pihak yang kalah hanyut dan serta merta mengikuti pihak yang menang agar dikatakan beradab dan maju (baca : modern) dan sebagian tetap bertahan dengan budaya lokal dan agamanya sehingga siap untuk dikatakan kolot dan ketinggalan zaman.

Pandangan Dunia

Peradaban umat manusia tidak bisa dipisahkan dari pandangan-dunia (world view) mereka, karena pandangan-dunialah yang akan membentuk ideologi dan kemudian ideologi yang akan melandasi peradaban mereka. Pandangan-dunia yakni bagaimana manusia melihat dunia atau seperti apakah dunia ini. Seorang manusia dalam menjalankan aktivitas-aktivitasnya ingin mencapai apa yang ia dambakan dan cita-citakan. Cita-cita seseorang dipengaruhi oleh pandangannya tentang dunia. Ketika ia melihat dunia sebagai sesuatu (baca :materi )yang akan memberikan segala sesuatu, maka ia berusaha mendapatkan materi itu.

Secara general dan global pandangan dunia manusia dibagi menjadi dua, pandangan dunia materialis dan pandangan dunia agama. Yang pertama memandang dunia sebagai sesuatu yang hanya materi. Maka orang-orang yang berpandangan semacam ini akan melandaskan segala aktivitasnya di atas materi dan pemuasan kebutuhan-kebutuhan materi (yang dimaksud dengan materi tidak terbatas pada benda saja, tetapi termasuk kebutuhan biologis, nafsu, dan kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi hanya dengan materi saja).

Dan pandangan dunia agama melihat dunia bukan hanya materi saja tetapi juga mengandung nuansa dan muatan akhirat. Oleh karena itu, mereka yang mempunyai pandangan semacam ini, mencari kepuasan yang sifatnya non-materi, seperti kepuasan ruhani. Mereka lebih mencari dan mengejar kebutuhan dan kepuasan ruhani. Dunia hanya sebagai jembatan yang menghubungkan mereka ke alam akhirat. Idiom-idiom mereka akan bertolak belakang dengan idiom-idiom kaum materialis. Mereka mengorbankan dunia demi meraih kebahagiaan ruhani, seperti mati syahid, mendahulukan kepentingan orang lain, yang dalam pandangan kaum materialis dianggap tindakan yang konyol karena tidak akan mendatangkan keuntungan materi apapun.

Bagaimana Model Peradaban Islam ?

Peradaban yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saww. adalah peradaban yang dibangun di atas pijakan pandangan dunia agama bukan materi. Islam lebih mengedepankan nilai-nilai ruhani dan kemanusiaan. Materi - termasuk teknologi - bukan tujuan utama tetapi hanya aksidental. Keberhasilan menurut Islam tidak diukur dengan perolehan materi yang banyak tetapi diukur dengan pendekatan diri kepada Allah dan memperbanyak bekal untuk hari akhir. Imam Ali as. di saat kepalanya ditebas oleh seorang Khawarij secara spontan berkata, "Demi Tuhan Ka'bah, aku telah berhasil !". Sampainya seseorang kepada Allah Swt dan berkhidmat kepada manusia adalah prestasi yang dituntut oleh Islam. Materi sebagai materi tidak mempunyai nilai apapun di mata Islam. Materi akan berarti jika dimaknai dengan tujuan-tujuan akhirat. Dalam tulisan ringkas ini, saya tidak perlu mengutip ayat maupun hadis tentang iman dan amal kebaikan, karena sangat banyak ayat dan hadis yang menjelaskan hal tersebut.

Nabi Muhammad Saww. dengan peradaban yang berdasarkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan berhasil mengalahkan dua kekuatan yang kuat; Persia dan Romawi yang membangun peradaban dengan kekuatan materi. Meskipun pada perkembangan berikutnya para pemimpin Islam, khususnya khilafah Abbasiyyah, lebih concern pada pembangunan materi bukan pengembangan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kenyataan umat Islam dewasa ini, individual dan komunal, karena posisinya yang terbelakang tidak lagi melihat dunia dengan pandangan dunia agama dan mereka ingin bangkit membangun peradaban berdasarkan kemajuan teknologi. Umat Islam lebih terobsesi untuk meraih materi ketimbang nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Malah sebagian besar, mengukur keberhasilan seseorang dengan sejauh mana ia mendapatkan materi. Pujian si fulan berhasil disebabkan ia menjadi pengusaha. Lebih tragis lagi lembaga-lembaga keagamaan pun dianggap maju kalau telah memiliki fasilitas-fasilitas yang maju, mutu pendidikan yang dihasilkannya dipandang dengan sebelah mata. Sehingga pada gilirannya lembaga pendidikan lebih mengutamakan unsur komersilnya ketimbang mutu pendidikannya.

Dan dalam skala yang lebih besar, pengelompokkan negara dengan negara maju, negara berkembang dan negara terbelakang berdasarkan teknologi yang materialis. Sebuah negara yang memiliki teknologi yang canggih adalah negara yang menjadi idola negara-negara berkembang, tanpa melihat sejauh mana kehancuran moral di negeri itu. Sebaliknya negara yang tidak memiliki teknologi yang maju dianggap terbelakang meskipun negara itu menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Barat dengan teknologinya menjadi panutan bagi negara-negara Islam dan tidak jarang mereka mendikte negara-negara Islam. Dan itu suatu hal yang wajar, karena yang menjadi trend sekarang adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam pun agar tidak dikatakan ketinggalan zaman berusaha untuk mengikuti dan mengekor Barat. Padahal umat Islam untuk tampil sebagai kekuatan yang disegani seharusnya kembali kepada ajaran Islam yang telah membangun peradaban berdasarkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan bukan teknologi yang materialis. Teknologi bukan dasar maupun ukuran untuk menilai kemajuan di hadapan Allah Swt. Karena setinggi apapun peradaban yang berdasarkan teknologi hanya akan meninggalkan kenangan sejarah dan menjadi obyek wisata untuk masa yang akan datang, sebagaimana kita saksikan sisa-sisa peradaban umat-umat terdahulu yang sekarang tinggal puing-puingnya saja.

Peradaban Islam, meskipun tidak meninggalkan peninggalan teknologi yang sangat berarti, telah berhasil mewariskan ajaran-ajaran yang benar dan suci yang dapat membentuk insan-insan yang bersih, jujur, dan berkemanusiaan sepanjang zaman.

Oleh karena itu untuk menghadapi hegemoni dan supremasi Barat tidak dengan mengejar mereka dengan ilmu pengetahun dan teknologi, tetapi menghadapinya dengan mengembangkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Dan dengan nilai-nilai itu Nabi Muhammad mampu mengalahkan peradaban Persia dan Romawi pada waktu itu.[]