(1) Taliban Usik Keharmonisan Umat Beragama

Kaum penyembah berhala di India kini merasa berhak dan berani membakar kitab suci AlQuran serta menghina tanah suci Mekkah dan Madinah setelah Rezim Taliban di Afganistan yang mengatasnamakan ajaran Islam tak segan-segan menghancurkan patung-patung agama Budha peninggalan sejarah yang sangat berharga karena berusia ribuan tahun. Pelecehan terhadap umat Islam itu terjadi Senin 5 Maret kemarin di depan kantor perwakilan PBB di New Delhi dan dilakukan oleh sejumlah orang. Peristiwa ini tentu sangat memprihatinkan dan melukai perasaan umat Islam. Sayangnya ini semua terjadi karena ulah Taliban yang selama ini merasa paling Islam diantara umat Islam lainnya. Buktinya, kendati sudah dicegah oleg para ulama dan pemerintah dari berbagai negara Islam serta PBB, Taliban tetap bersikeras untuk menghancurkan peninggalan sejarah umat pemuja berhala di Afganistan sehingga terjadilah balasan berupa pelecehan terhadap hal-hal yang disucikan oleh Islam.

Tindakan Taliban jelas melangkahi nilai-nilai keberadaban sehingga bisa memancing reaksi balasan bukan hanya dari umat di India tetapi juga umat agama pemuja berhala yang tersebar di pelbagai wilayah Asia lainnya. Yang bersorak menyaksikan semua ini siapa lagi kalau bukan kekuatan-kekuatan yang selama ini menganggap Islam sebagai musuh besar karena Islamlah agama yang paling berperan dalam menciptakan kesadaran dan kebangkitan kaum tertindas di depan para adi daya dan kekuatan imperialis. Musuh-musuh Islam inilah yang menganggap ajaran Islam sebagai agama yang merugikan kepentingan mereka sehingga sejak masa-masa silam pun mereka sudah gigih berupaya mencemarkan citra dan ajaran Islam yang hakiki. Upaya merongrong Islam itu selama ini tidak seberapa berhasil. Sayangnya kini di dunia Islam muncul fenomena Taliban dan Talibanisme sejak tahun 1994. Sarangnya ialah Afganistan, sebuah negara yang pada tahun 80-an pernah menjadi salah satu basis utama mujahidin Islam yang menjadi kebanggaan dunia Islam karena berhasil memukul mundur Adi Daya Uni Soviet dari bumi Afganistan. Menilik besarnya nilai latar belakang Afganistan ini, fenomena Taliban bisa dipastikan bukanlah fenomena yang muncul secara aksidentil. Kalau para analis mengkaji dan merunut secara tajam Taliban sejak awal mencuatnya, niscaya akan tahu persis bahwa milisi yang sekarang menguasai sebagian besar Afganistan ini adalah gerakan yang justru mengoyak citra Islam, baik itu atas prakarsa musuh-musuh Islam maupun lantaran pertikaian dan kelalaian fraksi-fraksi politik Afganistan sendiri dan pemerintah Pakistan.

Banyak tanda yang bahkan bisa diangkat sebagai bukti bahwa Dinas Rahasia AS telah bekerjasama dengan Inggris dan Pakistan untuk membidani lahirnya organisasi Taliban. Salah satu buktinya adalah pengakuan Nyonya Benazir Butho yang dulu berkuasa di Pakistan. Kini, orang baru menyadari bahwa bantuan yang selama ini telah merawat dan membesarkan bayi Taliban ternyata tidak hanya merugikan Afganistan dan Islam, tetapi bahkan merugikan umat manusia. Kini, terbukti bahwa Taliban tak hanya menabuh genderang peperangan untuk saudara-saudara seagama, sebangsa dan setanah airnya sendiri, tetapi juga untuk sesamanya sebagai umat manusia yang beradab dan beragama.[]

 

(2) Iran Mendapat Apresiasi dari WHO

Nyonya Brundt Land Drijen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Senin kemarin mengadakan pertemuan dengan Presiden Iran Mohammad Khatami di Teheran. Dalam pertemuan ini saat menjelaskan tentang berbagai tindakan yang ditempuh WHO untuk meningkatkan taraf kesehatan di berbagai wilayah dunia, Sekjen WHO juga menyatakan apresiasinya atas upaya gigih Iran khususnya dalam memelihara kesehatan anak-anak kecil.

Bukan basa-basi, sejak dua dekade silam, Iran diakui telah menempuh upaya keras yang terbukti efektif dalam maninggikan tingkat kesehatan masyarakat. Karenanya, dewasa ini Iran termasuk negara yang berada di tingkat atas di bidang kesehatan dan pengontrolan berbagai jenis penyakit. Dalam hal ini WHO menilai apa sudah ditempuh Iran selama ini sebagai aktivitas yang amat berharga sehingga Iran diminta supaya menyalurkan pengalamannya kepada negara-negara lain.

Menurut laporan-laporan WHO tahun silam, angka kematian di Iran pada tahun 1990 yang mencapai 4,9 persen kini berkurang menjadi 2,7 persen. Kata para pakar kesehatan dunia, kemajuan yang diperoleh Iran sesuai dengan tujuan KTT yang diselenggarakan tahun 2000 untuk kesehatan dan kesejahteraan anak-anak kecil. Berdasarkan data-data yang ada, dewasa ini di Iran telah terjadi penuruan angka kematian yang drastis. Dewasa ini angka kematian bayi di Iran berkurang menjadi 26/1000, sedangkan kematian balita menjadi 35/1000, dan angka yang sama pula terjadi pada kematian bayi saat dilahirkan.

Kesuksesan Iran di bidang kesehatan ini dinilai penting bagi upaya menjamin kesehatan masyarakat dan pengontrolan berbagai jenis penyakit berbahaya dalam skala regional serta bagi kerjasama dengan WHO untuk memberikan pelayanan secara luas dan penyaluran pengalaman ke negara-negara lain.

Mengingat semua ini, dalam pertemuan dengan Dirjen WHO Brundt Land, Presiden Iran Mohammad Khatami menyatakan prihatian atas kondisi kesehatan masyarakat Palestina dan Afganistan, karena itu Iran siap bekerjasama dengan WHO untuk mengatasi problema kesehatan di dua negara tersebut. Kemudian, merebaknya berbagai jenis penyakit semisal Aids di dunia tentu sangat menuntut adanya kerjasama maksimal antar negara dan organisasi kesehatan dunia. Sejauh ini, kerjasama Iran dengan WHO di bidang pemberantasan berbagai jenis penyakit seperti polio, malaria dan TBC telah membuahkan hasil yang memuaskan. Dan kerjasama ini bisa terus ditingkatkan dalam taraf yang lebih tinggi di semua bidang kesehatan dan pengontrolan berbagai jenis penyakit yang ada.[]

@MuMoe@