BULETIN AL-JAWAD [edisi ke-1/tahun x/muharram 1421 hijriah]

Imam Husain as. antara Belaian Kasih dan Tamparan Murka
Ust. Husein Al-Kaff

Ketika kita memasuki bulan Muharram yang berdarah, kita diingatkan kembali tentang tragedi historis yang mengharukan umat manusia sepanjang sejarah. Nilai-nilai kemanusiaan dipasung dan nafsu-nafsu serakah diobral. Kebenaran ditinggalkan dan kebatilan dinobatkan. Pada peristiwa itu, kita saksikan bagaimana kebenaran dan keadilan dengan para pendukungnya tidak berdaya dihadapan kebatilan dan kepongahan. Mayoritas Manusia, waktu itu, enggan menyambut suara lirih dari penegak keadilan “Adakah penolong yang akan menolongku?“. Mereka dicekam ketakutan yang luar biasa sehingga mereka tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan, “ Aku , Ya Husain ! “.

Keberanian telah diwariskan oleh al-Husain as. dan keluarga Nabi serta para sahabat setianya dan direkam oleh sejarah Karbala’ untuk umat manusia. Keberanian merupakan sifat akhlaki yang tinggi dan terpuji sebagai buah buah dari keimanan yang dalam. Al-Husain as. salah satu manusia suci yang berada pada puncak keimanan yang sangat tinggi telah mengorbankan apa yang ada, termasuk nyawanya, demi tegaknya kebenaran dan keadilan.

Lebih dari itu, al-Husain lahir dan dibesarkan di tengah keluarga pemberani, Bani Hasyim. Keluarga yang telah melahirkan Abdul Muththalib; tokoh Quraisy yang paling berwibawa dan disegani oleh bangsa Arab, demikian pula Abu Thalib dan Hamzah ; singa padang pasir yang pantang mundur dalam perang. Dan yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian al Husain as. adalah kakek, ayahanda dan ibundanya; Rasulullah, Imam Ali dan Sayyidah Fathimah as.

Dalam tulisan ini yang akan dipaparkan adalah sekelumit tentang riwayat hidup Imam Husain as.

Imam Husain as. Kesayangan Sang Kakek.
Beliau dilahirkan pada tanggal 3, atau menurut sebagian riwayat, tanggal 5 di bulan Sya’ban tahun keempat hijriyah. Setahun setelah kelahiran kakaknya, Imam al Hasan as. Kelahirannya merupakan anugerah Ilahi yang besar dan berarti bagi Rasulullah Saww. Begitu lahir sang kakek segera mengumandangkan adzan di telinga kanannya dan melafadzkan iqamah di telinga kirinya, dan memasukan lidahnya melalui mulutnya yang mungil.

Asma binti U’mais bercerita, bahwa setahun setelah az-Zahra as. melahirkan al-Hasan as. Beliau melahirkan seorang bayi, lalu datang kepadanya Rasulullah saww. dan berkata, “ Hai Asma’ bawalah kemari anakku “, lalu aku serahkannya kepada beliau. Beliau nampak senang dengannya. Beliau membacakan adzan di telinga kanannya dan iaqamah di telinga kirinya, kemudian beliau memangkunya di pangkuannya sambil menangis. Aku bertanya, “ Ayah dan ibuku tebusanmu, Ya Rasulullah. Mengapa Anda menangis ? “. “ Aku menangis karena musibah yang akan menimpanya setelahku. Ia akan dibunuh oleh kelompok yang dzalim. Mudah-mudahan Allah tidak memberikan kepada mereka syafaatku “.

Asma’ melanjutkan, “Lalu Rasulullah saww. berkata kepada Ali as.“ Apakah kamu sudah menamainya, Ya Abal Hasan ? “. “Aku tidak akan mendahuluimu dalam menamainya. (Sebenarnya) aku berkeinginan memberi nama Harb “. Jawab Ali as. Nabi berkata, “ Berilah ia nama Husain “. ( Sirah al Aimmah Itsnai ‘Asyar karya Hasyim Ma’ruf al Hasani).

Pada hari ketujuh dari kelahiran al-Husain as, Rasulullah Saww. mengadakan aqiqah dengan menyembelih seekor domba dan bersedekah dengan perak seberat timbangan rambut al-Husain as. Hal sama beliau telah lakukan pula terhadap al Hasan as.

Bayi al-Husain as. menjadi anak kecil yang sangat lucu dan menarik. Para sahabat setiap melihatnya teringat kepada kakeknya. Mereka menyaksikan begitu sayang dan cintanya Rasulullah saww. kepada al Husain as.

Ibnu Abbas meriwayatkan, “ Suatu hari kami bersama Nabi Saww., tiba-tiba datang Fathimah as. menangis. Nabi saww. bertanya, “ Ayahmu tebusanmu. Gerangan apa yang membuatmu menangis ?”. Fathimah menjawab, “ Sesungguhnya al Hasan dan al-Husain keluar dan sekarang aku tidak mengetahui di mana mereka tidur malam ini “. Nabi berkata, “ Janganlah menangis. Sesungguhnya Pencipta mereka lebih sayang kepada mereka dari pada aku dan kamu “, lalu beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “ Ya Allah, jagalah dan selamatkan mereka “.

Kemudian Jibril turun dan berkata, “Ya Muhammad, jangan sedih. Sesungguhnya mereka sedang tidur di kebun Bani Najjar. Allah telah mengutus malaikat untuk menjaga mereka “. Rasulullah Saww. dengan beberapa sahabatnya pergi mendatangi kebun Bani Najjar. Ternyata al-Hasan dan al-Husain tengah tidur saling berpelukan. Beliau segera menciumi mereka sehingga mereka bangun dari tidur. Kemudian beliau membawa al-Hasan di pundak kanannya dan al-Husain di pundak kirinya. Di tengah jalan Abu Bakar datang dan berkata, “ Ya Rasulullah, berikan kepadaku salah satu dari kedua anak itu untu aku bawa ? “. Rasulullah saww. bersabda, “ Sebaik-baiknya kendaraan-kendaraan mereka dan sebaik-baiknya pengendara adalah mereka dan ayah mereka lebih baik dari mereka “.

Setelah itu, Rasulullah pergi ke masjid dan berdiri di hadapan para sahabat, “ Ma’asyiral Muslimin, Maukuh aku tunjukkan kepada kalian sebaik-baiknya kakek dan nenek manusia ? “. “ Tentu, Ya Rasulullah “.

Beliau meneruskan, “ al-Hasan dan al-Husain. Kakek mereka adalah utusan Allah dan penutup para Nabi, dan nenek mereka adalah Khadijah binti Khuwailid, penghulu wanita surga…” ( Dakhair al ‘Uqba hal 130).

Mencium, memeluk, mengngendong dan mengangkat menjadi aktivitas yang biasa Rasulullah Saww. lakukan terhadap al Hasan as. maupun al Husain as.

Pernah Abdullah bin Syadad meriwayatkan dari ayahnya, “Rasulullah Saww. keluar untuk melakukan salah satu sholat I’sya’ain (mahghrib dan i’sya ). Beliau membawa Hasan as atau Husain as. Beliau maju kedepan dan meletakkan cucunya di bawah. Kemudian beliau takbir untuk sholat dan lalu sujud. Beliau memanjangkan sujud. Lalu aku mengangkat kepalaku, ternyata cucu beliau tengah menaiki punggung Rasulullah Saww. yang sedang sujud. Aku kembali sujud. Setelah beliau menyeleasikan sholatnya. Orang-orang berkata, “ Ya Rasulullah, Anda tadi sujud dalam sholat begitu lama sampai-sampai kami mengira terjadi sesuatu atau Anda mendapat wahyu “. Beliau menjawab, “ Itu semua tidak terjadi. Tetapi tadi anakku menaikiku, aku tidak ingin mempercepat(mengnganggunya) sampai dia menyelesaikan hajatnya “. (Shahih al-Nasa’i jilid 1 hal 171)

Abu Hurairah meriwayatkan, “Adalah Rasulullah Saww. menjulurkan lidahnya kepada al-Husain as. sehingga al-Husain as. melihat lidahnya yang merah, maka ia pun girang dan senang. Uyaynah berkata , “ Tidakkah aku melihat beliau melakukan itu dengan itu ?. Demi Allah Aku punya seorang anak dan aku belum pernah menciumnya sama sekali “. Lalu Nabi saww. bersabda, “ Barangsiapa tidak menyayangi maka tidak disayangi “. (Dakhair al ‘Uqba hal 126).

Begitu dekat hubungan emosinal dan batin Rasulullah Saww. dengan al-Husain sampai-sampai tangisannya melukai hati Rasulullah Saww. Dari Yazid bin Abu Ziyad. “ Pernah Rasulullah Saww. keluar dari rumah Aisyah. Beliau melewati rumah Fathimah as. dan mendengar Husain menangis, beliau berkata, “Tidak kamu tahu bahwa tangisannya mengangangguku (melukaiku) ? “. ( al Haitsami dalam Majma’nya juz 9 hal 201).

Masih banyak lagi riwayat-riwayat yang meceritakan begitu indahnya hubungan emosianal Rasulullah Saww. dengan cucundanya yang tercinta, al-Husain as. Sebagai penutup riwayat hidup Imam al Husain as. pada masa kakeknya, kami kutip satu riwayat yang populer. Dari Ya’la bin Murrah, Rasulullah Saww. bersabda, “ Husain dariku dan aku dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintai Husain. Husain adalah cucu dari beberapa cucu “. ( Shahih Turmuzi juz 2 hal 307).

Imam Husain as. Setelah Kakeknya.
Masa-masa indah yang dialami Imam Husein as. bersama kakeknya berlalu dengan cepat selama tujuh tahun. Beliau berpulang ke rahmatullah untuk selamanya. Kerpergian Rasulullah Saww. pertanda dimulainya babak kehidupan Imam Husein yang baru. Kehidupan yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Kehidupan yang penuh dengan kegetiran, hasutan, kebencian dan permusuhan antara sesama umat kakeknya.

Sang kakek telah pergi ke alam baqa’. Jasad beliau masih hangat, tangisan putrinya, Fathimah Zahra as. atas kepergiannya masih terisak-isak, jeritan cucu-cucunya masih lirih, hati Imam Ali as. masih dirundung duka yang dalam, demikian pula hati para sahabat setia beliau. Disaat langit menangis dan bumi berduka, sejumlah sahabat Nabi Saww. Tengah bersitegang dan mengencangkan urat leher dan sebagian telah menghunuskan pedang hanya sekedar memperebutkan posisi khilafah, yang mereka anggap sebagai jabatan duniawi yang menjanjikan. Mereka tidak sadar bahwa khilafah adalah amanat Ilahiah yang amat berat.

Itulah permulaan kegetiran yang dirasakan Imam Husein yang masih kecil. Kemudian kebencian demi kebencian dan tekanan demi tekanan yang dialami ibundanya, Fathimah as, ikut dirasakan olehnya juga sampai beliaupun mengetahui bagaimana kekesalan ibundanya terhadap sejumlah anak didik kakeknya.

Imam Husein as. hidup bersama ibundanya setelah kepergian kakeknya hanya enam bulan ( menurut riwayat yang populer). Setelah itu sang ibu yang berduka dan terluka tidak sabar untuk segera menyusul kakeknya ke alam baqa’.

Menjelang wafatnya, Sang ibu berkata kepada Asma’, “Tuangkan air untukku“. Beliau mandi dengan air itu, kemudian menyuruh Asma’ untuk mengambilkan baju-bajunya yang baru dan hanuth (kapur barus yang diusapkan pada anggota sujud mayat) milik ayahandanya, Rasulullah Saww. Fathimah berkata,“ Keluarlah kamu dan tunggu aku sebentar. Aku ingin bermunajat dengan Tuhanku. Kemudian panggillah aku, jika aku menjawab, (maka aku masih ada), jika aku tidak menjawab maka ketahuilah bahwa aku telah menyusul ayahku “.

Setelah itu Asma’ menyadari bahwa Fathimah as. telah tiada. Ie keluar dan berjumpa al Hasan dan al Husain. Mereka bertanya, “Mana ibu kami ?”. Asma diam tidak menjawab. Mereka masuk ke dalam rumah, mereka mendaptakan ibuny tidur terlentang. Al-Husain as. menggerak-gerakkan kaki ibunya, tetapi ibunya telah tiada. Melihat itu, al-Hasan as. segera menciumi ibunya seraya berkata, “ Ibu, berbicaralh denganku sebelum ruhku berpisah dengan badanku “. Al-Husain as. menciumi kaki ibunya sambil berkata, “ Ya Ummah, aku anakmu al-Husain. Berbicaralah denganku sebelum jantungku berhenti, maka aku mati …“ (Bait al Ahzan hal 150-152).

Sangat sedikit sejarah mencatat kehidupan Imam Husain as. pada masa khilafah Abu Bakar, karena masa khilafah sangat singkat yaitu dua tahun dan waktu itu Imam Husein masih kecil, berusia dari tujuh tahun sampai sembilan tahun. Sedangkan pada masa khilafah Umar usia Imam Husain as. mulai beranjak remaja sehingga terdapat beberapa catatan sejarah tentang kehidupannya pada masa itu.

Imam Husein as. berkata, “Aku pernah mendatangi Umar sementara dia sedang khutbah di atas mimbar dan kaum muslimin berada di sekelilingnya. Aku melangkahi mereka dan naik mimbar. Aku berkata kepadanya, “Turun dari mimbar ayahku dan pergilah ke mimbar ayahmu “. Umar tersenyum dan berkata, “Ayahku tidak mempunyai mimbar dan benar ini adalah mimbar ayahmu“. Kemudian Umar mendudukan aku di sampingnya. Setelah ia turun dari mimbar, ia mengajakku ke rumahnya dan bertanya kepadaku, “Siapa yang mengajarimu itu?“. Aku menjawab, “ Demi Allah, tiada satupun yang mengajariku “. (Sirah al Aimmah Itsnai Asyar, Sayyid Hasyim Ma’ruf al-Hasani)

Pada masa khilafah Umar terdapat dua peperangan yang besar; perang melawan Persia dan Romawi. Dalam kedua perang ini, Imam Husain as. tidak ikut serta, karena usianya yang masih remaja sekali.

Sedangkan pada masa khilafah Usman bin Affan, Imam Husain as. pernah ikut serta perang ke Afrika dan beberapa daerah di Persia. Menurut sebagian riwayat bahwa Imam Husain as. bersama kakaknya, Imam Hasan as. menjaga pintu rumah Usman ketika dikepung oleh para pemberontak sampai mereka berdua terinjak-terinjak.

Dan pada masa khilafah ayahandanya, Imam Husain as. terlibat banyak dalam sosial, politik dan perang. Pada masa ini, beliau menyaksikan bagaimana ayahandanya dikhianati dan dihasut oleh orang-orang penting pada masa itu, sehingga meletuslah perang Jamal (perang unta). Beliau ikut serta dalam tiga perang yang terjadi pada masa khilafah ayahandanya; Jamal, Shiffin dan Nahrawan.

Dalam perang Jamal melawan para pengingkar janji (nakitsin), dalam perang Shiffin melawan kelompok pembangkang dan dalam perang Nahrawan melawan kaum khawarij. Dalam ketiga perang ini, Ayahanda beliau risau karena mesti berhadapan dengan orang-orang yang mengaku sebagai umat Rasulullah Saww. Segala upaya beliau lakukan untuk meredam api fitnah demi menghindari pertumpahan darah. Namun, usaha beliau sia-sia. Akhirnya perangpun tidak dapat dihindari.

Setelah ayahandanya meninggal ditebas oleh seorang khariji, Abdurahman bin Muljam, pada tahun empat puluh hijriyah. Khilafah beralih kepada kakaknya, Imam Hasan as. Namun masa khilafah Imam Hasan tidak berlangsung lama, karena Muawiyah sebagai rival politiknya berusaha dengan cara-cara yang licik dan tidak manusiawi untuk merebut khilafah. Akhirnya Imam Hasan as. diracun melalui tangan istrinya, Ja’dah.

Muawiyah berkuasa. Permusuhan kepada keluarga Nabi Saww. makin menjadi-jadi. Imam Husain as. harus memikul semua itu. Beliau harus menyaksikan bagaimana agama yang dibawa kakeknya dirubah. Kekuasaan Islam diambil oleh orang yang sejak zaman kakeknya telah memusuhi Islam. Beliau menangis dan meratapi keadaan yang terjadi. Sejak kakeknya wafat, permusuhan dan kebencian silih berganti dan puncak dari semua kebencian dan permusuhan itu adalah naiknya Yazid sebagai penguasa kaum muslimin secara paksa.

Imam Husain as. tidak bisa diam menyaksikan Yazid seenak perutnya merubah dan merusak agama. Beliau berkata, “ Jika umat Islam dipimpin oleh orang semcam Yazid, maka selamat jalan atas Islam “. Beliau bangkit dengan segenap kekuatan yang ada, membawa keluarganya dan beberapa sahabat setianya yang berjumlah tujuh puluh tiga orang.

Perang tidak bisa dihindari. Imam Husain as. berhasil mereguk air syhadah dengan tenang. Jasadnya yang suci diinjak-injak musuh-musuh Allah. Kepala beliau yang selalu sujud di hadapan Allah dan sering dibelai oleh tangan suci Rasulullah Saww. ditampar dan dipukul dengan pedang serta dipasung di ujung pedang dan diarak dari Kufah ke Syam. Mulut suci beliau yang kerap dicium oleh Sang kakek di tusuk-tusuk dengan pedang dan tongkat kebencian Yazid dan Ibnu Ziyad.

Anas bin Malik berkata, “ Ketika al-Husain as. terbunuh kepalanya dibawa kepada Ibnu Ziyad. Ibnu Ziyad menusuk gigi beliau dengan tongkatnya. Aku berkata di dalam diriku, “ Sungguh celaka kamu. Sungguh aku pernah lihat Rasulullah saww. mencium mulutnya “. (Dakhair al ‘Uqba hal 126).

Salam sejahtera atasmu Ya Husain dihari lahirmu, di saat perjuanganmu dan di hari syahadahmu. Sampaikan salam kami kepada kakekmu, ayahmmu, ibumu dan kakakmu. Takziyah kami kepadamu Ya Sahibal Ashri wa Zaman al-Mahdi atas wafatnya kakekmu, al-Husain as.


<-- back
|  next -->