BULETIN AL-JAWAD [edisi ke-1/tahun x/muharram 1421 hijriah]

Sejarah dan Filsafat Aza'iyah Husain
Bashir Rahim

A. Pesan
Lebih dari 1350 tahun yang lalu, pada 10 Muharram, sesaat sebelum Ashar, seorang lelaki berdiri di lautan pasir di Karbala. Sekujur tubuhnya berdarah yang keluar dari luka-lukanya. Dia telah kehilangan segalanya. Sejak pagi hari ia telah membawa mayat-mayat ke dalam kemahnya. Dia bahkan telah menguburkan anaknya yang masih bayi. Dia memandang mayat-mayat orang kecintaannya.

Air matanya mengalir. Dia menatap langit dan tampak tergambar kekuatan-kekuatan dari sumber gaib. Kemudian, bagaikan seorang muazin dari menara, ia mengumandangkan suaranya :

Adakah orang yang akan membantu kami ?
Adakah orang yang akan menjawab seruan untuk membantu ?


Dia memalingkan arah dan mengulang seruan tersebut. Dia melakukannya empat kali. Siapakah yang ia panggil? Sesungguhnya ia tidak mengharapkan siapapun untuk datang membantunya. Mereka yang ingin membantunya telah berguguran dan mengorbankan nyawa mereka karena alasan itu. Dia tahu tak ada satu pun yang tersisa. Dia tahu bahwa tidak ada al-Hurr lain. Dan ia, berusaha keras dan bersusah payah untuk tetap yakin bahwa seruannya bergema di seluruh penjuru.

Tentu saja seruan itu merupakan seruan kepada seluruh Muslimin di setiap generasi di setiap negeri. Ia merupakan seruan kepada kita di mana pun kita berada. Ini merupakan seruan untuk pertolongan. Bantuan menentang Yazidisme yang ada di setiap zaman yang memunculkan tokoh-tokoh jahatnya untuk menindas keadilan, kebenaran, dan moralitas. Imam kita menyeru kepada setiap Muslim di setiap ruang dan waktu untuk memerangi Yazidisme, baik yang ada dalam dirinya sendiri maupun dari kekuatan eksternal. Ini merupakan tangisan perjuangannya demi jihad akbar. Ia telah mendemonstrasikan bahwa tujuannya selalu dalam keadaan menciptakan kesadaran spiritual melalui amar makruf nahi munkar. Sekarang beliau menyeru untuk kelanjutan jihad ini pada aras individu, sosial, dan politik.

B. Asal Usul dan Perkembangan Aza’iyah

Kaum Muslimin, khususnya Syi'ah, telah membalas seruan ini dengan lembaga khas dari aza’iyah Husain. Dengan setiap air mata yang kita teteskan untuk beliau, kita bersumpah menentang tekanan kezaliman, imoralitas, perbedaan, dan kepalsuan. Setiap kali kita angkat tangan kita dan memukulkannya ke dada kita dalam ma’tam, kita ucapkan : "Labbaik, labbaik, Ya Mawla!" kepada Imam kita, Husain bin Ali, cucunda Nabi Suci Saww.

Untuk waktu yang lama kata aza’iyah Husain telah digunakan secara khusus dalam kaitannya dengan upacara peringatan syahadah Imam Husain. Aza’iyah Husain mencakup upacara ziarah ratapan, ma’tam dan tindakan-tindakan yang serupa yang mengungkapkan perasaan sedih kemarahan dan di atas semuanya, penentangan terhadap apa Yazid lakukan. Emosi-emosi ini, bagaimanapun, menyisakan kesia-siaan dan kemunafikan kecuali digabungkan dengan kehendak untuk mereformasi baik di tingkat individu maupun tingkat masyarakat. Istilah majlis mempunyai pengertian gramatikal dan pengertian yang berkaitan dengan aza’iyah Husain. Dalam arti teknis, majlis artinya pertemuan, atau perkumpulan. Dengan merujuk kepada aza’iyah Husain, ia berarti pertemuan untuk meratapi Imam Husain. Dalam arti pertama ini digunakan pertama kalinya oleh Imam Keenam kita, Ja'far Shadiq as. Diriwayatkan bahwa sahabatnya Fudhail bin Yasir datang untuk menyampaikan salamnya kepada Imam Suci.

Setelah saling bertukar salam, Imam bertanya kepada : "Apakah orang-orang Anda pernah mengadakan majlis-majlis guna mengenang syahadah Imam Husain?" Fudhail, dengan meneteskan air matanya, menjawab : "Wahai putra Rasulullah, sesungguhnya kami melakukannya." Imam berkata : "Semoga Allah merahmati Anda. Aku sangat menghargai majlis-majlis seperti itu."

Pada kesempatan lain, penyair Ja'far bin Ifan membacakan sebuah syair di hadapan Imam Shadiq tentang tragedi Karbala. Imam mulai menangis secara tidak terkontrol. Kemudian beliau mengomentari syair tersebut dengan kata-kata berikut : "Wahai Iffan, janganlah engkau mengira bahwa hanya mereka yang bisa melihatmu di sini yang mendengar syairmu. Sesungguhnya malaikat Allah yang terdekat hadir di sini, di majlis ini dan mereka semua mendengarkan bacaanmu dan mereka juga meratap dan menangis. Semoga Allah merahmatimu berkat apa yang telah kaubacakan. Insya Allah, Dia akan membalasmu dengan surga atas usahamu atas nama kami."

Aza’iyah Husain merupakan suatu fenomena yang mencengkeram kesadaran kaum Muslim segera setelah tragedi Karbala.

Majlis Husain pertama diselenggarakan di sebuah pasar di Kufah oleh seorang wanita yang dari kepalanya yang berhijab terkoyak-koyak, harapan dan aspirasi telah dihancurkan di gurun berlumur darah Karbala namun memiliki spirit yang tidak putus-putusnya melangkah maju untuk membebaskan nilai-nilai Islam dari kesemena-menaan tirani dan penindasan. Wanita ini merupakan orang pertama yang menjawab seruan Imam Husain. Berdiri di atas untanya yang tidak berpelana, dia menatap kepada puncak kegemilangan kejayaan Yazid. Segera orang-orang melihatnya, lantas mereka diam. Mereka tahu bahwa sebuah peristiwa sejarah atas Kufah telah datang. Dengan menatap lurus-lurus kepada orang-orang, putri Ali itu berkata :

"Celakalah atas kalian, wahai penduduk Kufah. Apakah kalian tahu potongan-potongan hati Muhammad yang telah kalian bantai ! Bai'at yang telah kalian putuskan ! Darah yang telah kalian tumpahkan ! Kehormatan yang telah kalian musnahkan ! Itu bukan semata-mata Husain yang tubuhnya yang tak berkepala tidak dikubur di gurun Karbala. Itu adalah jantung Nabi Suci. Ia adalah jiwa sejati Islam."

Majlis pertama itu menyentuh dan menggerakkan penduduk Kufah begitu dalam yang akhirnya melahirkan gerakan Al-Tawwabun [Orang-orang yang Bertaubat] dan tuntutan Al-Mukhtar untuk balas dendam.

Sepuluh hari setelah Asyura, seorang utusan Yazid tiba di Madinah. Namanya Abdul Malik bin Abi Al-Harits Al-Sulami. Dia datang untuk menyuruh Gubernur [Madinah] Amr bin Said Al-Aas bahwa Husain bin Ali telah dibunuh di Karbala. Sang gubernur, yang lebih menyadari suasana masyarakat, yang ia sendiri tidak sanggup menyampaikan berita itu kepada umum selain Abdul Malik, yang jika ia harapkan, dapat membuat pengumuman tentang itu. Abdul Malik menyampaikan berita itu setelah shalat Subuh.

Ratapan dan tangisan yang panjang bermula dari rumah-rumah Bani Hasyim sehingga menggetarkan setiap dinding Masjid Al-Haram. Zainab, Ummi Luqman, putri Aqil bin Abi Thalib keluar berseru : " Apa yang akan kalian katakan tatkala Nabi menanyai kalian : 'Apa yang telah kalian lakukan, wahai umat terakhir, terhadap anak cucu dan keluargaku sepeninggalku ? Sebagian mereka menjadi tawanan dan sebagian mereka roboh terbunuh, berlumuran darah. Apa balasan risalah ini sehingga kalian tidak menaatiku dengan menindas anak cucuku ?".Fatimah binti Huzam, yang juga disebut Ummul Banin, menggendong cucunya Ubaidillah bin Abbas dan bersiap hendak keluar. Ketika ditanyakan kemana dia akan pergi, dia menjawab akan membawa yatimnya Abbas untuk memintakan simpati kepada ibu Husain. Marwan bin Hakam melaporkan bahwa setiap petang para lelaki dan wanita bergerombol menuju jannatul baqi dan mengadakan peringatan tragedi Karbala dan ratap tangis terdengar sampai beberapa mil jauhnya.

Ketika para tawanan akhirnya dilepaskan oleh Yazid, mereka meminta keleluasaan untuk menjalankan ritual peringatan di Damaskus. Sebuah rumah dibuat untuk mereka dan aza’iyah Husain berlanjut selama lebih dari seminggu. Sebagaimana Hazhrat Musa Kalimullah muncul dari istana musuh Allah, Firaun, Bibi Zainab meletakkan landasan aza’iyah Husain di ibu kota kerajaan pembunuhnya!.

Ketika mereka kembali ke Madinah, Bibi Zainab mengambil alih pimpinan aza’iyah Husain di kota Nabi Suci. Ini membangkitkan emosi yang begitu kuat pada masyarakat dan kutukan terhadap penindas sehingga Amr bin Said bin Al-Aas menulis surat kepada Yazid untuk memerintahkan pengusiran Bibi Zainab dari Madinah. Perintah pengusiran tersebut dilaksanakan pada awal tahun 62 H. Bibi Zainab wafat tidak lama kemudian. Imam ke-4 dan ke-5 keduanya memberi dukungan besar terhadap peringatan aza’iyah Husain. Pada masa mereka aza’iyah Husain dilaksanakan secara rahasia karena pemerintah menentang segala bentuk peringatan peristiwa Karbala. Penyair-penyair yang merangkai bait-bait syair dan para pengikut imam yang setia dengan penuh perhatian berkumpul ketika bait-bait syair tersebut dibacakan tanpa mempedulikan resikonya terhadap hidup mereka. Begitulah, para penyair terus menerus menuangkan emosi mereka dalam bentuk syair.

Beberapa dari syair-syair ini masih tetap bertahan hingga hari ini dan orang dapat melihat kentalnya keyakinan dan kesedihan suci dalam untaian kata para penyair. Secara berangsur-angsur, lembaga ziarah ini terbentuk. Orang-orang mengunjungi makam para syuhada dan di sana melaksanak aza’iyah Husain. Para Imam kita menuliskan untuk mereka doa ziarah untuk dibacakan. Salah satu doa ziarah ini dibaca oleh kita dan dikenal sebagai doa Ziarah Waritsa. Ketika kita menelaah Ziarah Waritsa ini, kita dapat melihat tidak hanya pengakuan akan kebesaran Imam Husain dan alasan gerakannya yang melukiskan pengorbanannya karena Allah semata, melainkan juga sebuah janji suci dan sebuah komitmen bagi pembacanya :

'Dan aku jadikan Allah, Malaikat-Nya, Nabi-Nya, dan Rasul-Nya, sebagai saksi kepada Al-Haq bahwa sungguh aku percaya pada Imam Husain dan kembaliku kepada Allah. Aku juga percaya pada hukum Allah dan pembalasan bagi perbuatan manusia. Aku telah serahkan hasrat hatiku kepada hatinya (Imam Husain a.s.) dan aku bersungguh-sungguh taat kepadanya dan (berjanji untuk mengikuti segala perintahnya)".

Tentu saja, usaha ini tidak dimaksudkan oleh para imam sebagai ritual kosong belaka. Pembacaan Ziarah Waritsa adalah sebuah komitmen terhadap peristiwa Imam Husain a.s. yang dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah, para malaikat-Nya, para nabi dan rasul-Nya, danpenuh perhatian terhadap perhitungan akhir perbuatan manusia. Orang harus senantiasa mencerminkan keseriusan dan kesetian terhadap janji ini.

Sampai masa ghaibah kubra (kegaiban besar), kita dapatkan Imam selalu memberi semangat untuk aza’iyah Husain. Mereka melihat pada aza’iyah Husain ini tidak hanya sekadar sebuah demonstrasi kesedihan terhadap Imam Husain dan para syuhada Karbala namun juga sebuah pembaharuan komitmen seseorang kepada Allah dan hukum-hukum-Nya sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran dan Hadis.

Kita harus merekam perkataan para na’ib [yakni empat wakil Imam Mahdi yang resmi ditunjuk oleh beliau sendiri – red.] selama ghaib shugra [kegaiban kecil] yang menjelaskan dan mendukung aza’iyah Husain. Dari tahun 329 H para fuqaha dan para ulama setelahnya mengambil alih atas dirinya untuk menyebarluaskan pesan-pesan Karbala.

Syeikh Ibn Babawayh Al-Qummi yang lebih dikenal sebagai Syaikh Shaduq yang wafat pada tahun 381 H adalah ulama pertama yang telah memperkenalkan prosesi tersebut sebagai media penyampai pesan-pesan Imam Husain. Dia biasa berdiri di atas mimbar dan berbicara secara spontan sementara para muridnya duduk di samping mimbar dan mencatat khutbahnya. Khutbah-khutbah beliau masih tersimpan dan hingga hari ini dikenal sebagai Amali (diktat) Syaikh Shaduq.

Demonstrasi kesedihan umum pertama kali terjadi pada tahun 351 H pada tanggal 10 Muharram, terjadi prosesi spontanitas di jalan-jalan kota Baghdad dan ribuan lelaki, wanita daan anak-anak keluar menyerukan “Ya Husain! Ya Husain!” memukul-mukul dada mereka dan membacakan syair-syair sedih.

Pada tahun yang sama, sebuah prosesi yang serupa dilaksanakan di Mesir. Pemerintah sekuat tenagamencoba meredam gelombang massa tersebut tetapi gagal. Dalam waktu singkat aza’iyah Husain menjadi sebuah lembaga yang mengakar kuat dalam dada kaum Muslimin. Majlis terserap ke dalam suatu lembaga amal makruf nahi munkar sebagai peringatan terhadap peristiwa tragis tersebut.

Bersama dengan penyebaran Islam, beberapa budaya berbeda mengadopsi model-model yang beragam aza’iyah Husain. Taimur Lang memperkenalkan lembaga Tabut dan Alam di India. Bersamaan dengan penyebaran Islam ke anak benua belahan selatan, bentuk itu berubah menyebar sesuai dengan aturan nilai budaya lokal sehingga dapat menyampaikan pesan-pesan Karbala melalui media yang dapat diterima oleh masyarakat pribumi, baik Muslim maupun Kristen.

Pada awal abad ke-19, tidak ada sudut dunia ini, dari Spanyol sampai Indocina, yang tidak mempunyai bentuk peringatan 10 Muharram yang sama.

Bentuk-bentuk tersebut bervariasi dari negara ke negara. Di Iran, bentuk yang paling populer berupa drama sebagai suatu medium untuk menyampaikan pesan Karbala di samping majlis-majlis dari mimbar.

Di India, upacara Asyura menjadi bagian dari kebudayaan Muslim India. Bahkan kaum Hindu berpartisipasi dalam acara ini. Maharaja Gwalior sering terlihat berjalan dengan telanjang kaki di belakang Hazhrat Abbas dan tanpa pengawalan dari kantor pusatnya. Marthiya dan majlis-majlis berpengaruh kuat di kalangan masyarakat Muslim yang menolong memperkuat tidak hanya keyakinan Islam mereka namun juga tujuan politik mereka. Sejarah mencatat bahwa bahkan Gandhi pun pada perjalanan protesnya yang terkenal menentang penindasan Kerajaan Inggris mengajak 72 orang bersamanya terinspirasi oleh protes Imam Husain terhadap penindasan Yazid.

C.Pentingnya Aza’iyah
Kalimat berikut adalah kutipan dari pesan dan wasiat terakhir dari Almarhum Ayatullah Ruhullah Khumaini r.a. yang begitu menyentuh dan berkesan :
Ingatan terhadap peristiwa perjuangan agung ini (Asyura) harus tetap hidup. Ingatlah, ratap tangis dan kutukan muncul disebabkan kekejaman rezim kekhalifahan Bani Umayyah terhadap para Imam suci, dicerminkan dalam protes heroik menentang para tiran yang kejam selama berabad-berabad. Ini penting bahwa kejahatan para tiran pada setiap masa dan era ditandai dalam ratap tangis dan pembacaan syair-syair yang diperuntukkan bagi para Imam”.

Kemanapun orang-orang Syiah pergi mereka telah membawa bersamanya bentuk-bentuk budaya dari aza’iyah Husain sebagaimana dipraktikkan di negeri asal mereka. Hari ini, aza’iyah Husain dalam satu bentuk ataupun bentuk lainnya, dapat dilihat di seluruh penjuru dunia.

Aza’iyah Husain adalah sebuah lembaga yang penting dan kita harus memastikan bahwa lembaga ini akan tetap hidup guna menjaga dan memelihara pesan-pesan Islam pada setiap diri kita dan agar anak-anak kita dan keturunannya tetap ingat kepada peristiwa Imam Husain a.s.

D. Aza’iyah pada tingkat Personal
Kita tidak boleh kehilangan pandangan fakta bahwa bentuk aza’iyah Husain dapat mencerminkan budaya pribumi setempat, meskipun intisari dari aza’iyah Husain harus senantiasa menjadi peringatan kesyahidan Imam Husain dan meneruskan kebaktian kita kepada perjuangannya.

Selalu ada bahaya jika bentuk tersebut muncul bertentangan dengan norma setempat dan terus menerus tidak lengkap kepada generasi muda atau kepada masyarakat pribumi yang kepada mereka kita menginginkan kesan dari pesan-pesan Karbala, substansi tersebut berangsur-angsur mungkin akan kehilangan maknanya. Struktur dari substansi tersebut tanpa kecuali teregantung kepada penerimaan bentuknya.

Sepanjang sejarah bentuk aza’iyah Husain senantiasa mengalami perubahan untuk menampung norma-norma setempat. Oleh karenanya, kita perlu keseriusan guna mengevaluasi kembali bentuk-bentuk tersebut dengan maksud untuk meyakinkan bahwa kita dapat melanjutkan kepada anak cucu kita substansi dari aza’iyah Husain dalam keadaannya yang asli dan juga membuat aza’iyah Husain sebagai sebuah instrumen tabligh yang sangat menarik. Kita wajib menggantungkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya untuk meyakinkan bahwa anak cucu kita tumbuh besar dengan menerima aza’iyah Husain bukan hanya sekedar kegiatan ritual, tidak juga sebagai cara untuk bertobat, tetapi sebagai sebuah komitmen serius kepada nilai-nilai asasi Islam.

Dr. Liyakat Takim dalam pembicaraannya di Toronto pada saat hari terakhir Imam Husain membuat pernyataan ini : “Pesan Imam Husain hanya bisa terpahami ketika kita menyimpan dalam benak kita prinsip-prinsip Al-Quran tentang tauhid yang menuntut komitmen teguh kita kepada Allah semata.”

Saya menerima bahwa tidak semua kita dapat tiba-tiba memenuhi atau meneguhkan komitmen. Tetapi ketika hari Asyura, setelah melakukan amal kita atau ketika ziarah dibacakan setelah aza’iyah, masing-masing kita berjanji, dengan nama Husain bin Ali, menghentikan setiap perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam betapa kita menjadi sebuah komunitas yang kuat dan betapa kita akan meninggalkan kepada anak cucu kita warisan yang sangat berharga !! Ini dalam pendapat saya akan menjadi aza’iyah Husain yang terbaik!

E. Aza’iyah sebagai alat tabligh
Merupakan tugas kita menyampaikan pesan Imam Husain kepada penduduk setempat pada setiap negeri yang kita diami. Kita hanya bisa berhasil dalam tugas ini hanya jika kita sendiri menunjukkan sebagai pengikut-pengikut sejati Imam dalam seluruh interaksi kita dengan masyarakat luas. Kita harus mencerminkan integritas maksimal, nilai-nilai Islam, serta komitmen kita yang tulus kepada Imam. Kita tidak mungkin membuat komitmen yang diabadikan dalam Ziarah Waritsa tanpa niat sama sekali menghargai komitmen tersebut.

Prosesi ini tentu saja merupakan lembaga yang secara efektif digunakan di negeri-negeri Timur dan Afrika. Kita mesti meyakinkan diri kita bahwa lembaga ini bisa sama-sama efektif di Barat. Jika tidak, kita mesti mengembangkan makna-makna lain dari penunaian pesan Imam kepada orang-orang. Kita harus melakukan aktivitas-aktivitas seperti :

  1. Donor darah melalui Bank Darah Husain
  2. Membagikan makanan kepada yang membutuhkan
  3. Memanfaatkan media secara maksimal untuk menjelaskan peristiwa dan fakta Imam Suci yang terbunuh demi menyelamatkan nilai-nilai mendasar yang dihargai oleh seluruh masyarakat.
  4. Menerbitkan dan menyebarkan selebaran-selebaran
  5. Membagikan minuman-minuman dingin di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lainnya
  6. Menjenguk para pasien di rumah-rumah sakit dengan hadiah-hadiah bunga. Anda bisa menemukan bahwa ketika membawakan hadiah kecil untuk seorang pasien di rumah sakit, niscaya Anda telah membawa pesan Imam Husain kepada seluruh keluarga pasien itu.

Semua anjuran ini didasarkan pada lembaga umum “sabil” yang kita masih mengadakannya di Timur dan Afrika. Meskipun meratap adalah penting, mungkin kita harus membatasi itu dengan penahan Imambargah kita, dan mendfemonstrasikan semangat sejati dari kedermawanan Imam Husain ketika beliau memerintahkan Hazhrat Abbas memberikan air kepada Al-Hurr dan pasukannya. Barangkali kita juga menyaksikan sejumlah besar gerakan menuju Islam dan Imam Husain.

F. Zakiri dan Presentasi sejarah
Saya memohon, dengan permintaan yang sangat, untuk memberikan kata-kata peringatan kepada semua sejawat zakir saya.

Pernyataan yang berlebih-lebihan hanyalah bisa mendiskreditkan kita dan maksud Imam Husain. Laporan-laporan sejarah harus diikuti meskipun di saat-saat tertentu, dalam kecemasa kita untuk membangkitan emosi, kita terpaksa melakukan pernyataan-pernyataan berlebih-lebihan. Kita telah mempunyai sejarah tercatat sebagai pedoman; sedangkan akal dan logika kita sebagai pembatas kita sebagaimana dilakukan sebagian besar ulama dan fuqaha kita.

Abu Mikhnaf merupakan sejarawan paling awal yang mengutip pernyataan-pernyataan dari para saksi mata yang disusun dalam maqtalnya. Terdapat dalam masa kita sekarang ini sebuah kitab berbahasa Arab yang disebut Maqtal Abi Mikhnaf. Adalah disangsikan apakah ini adalah naskah asli atau bukan, tetapi bagaimanapun kita mempunyai kutipan yang diriwayatkan oleh Thabari dan sejarawan lainnya. Kita, para zakirin, telah bersandar kepada berbagai sumber-sumber terutama Bihar Al-Anwar-nya Al-Majlisi dan selainnya. Beberapa buku yang bagus dalam bahasa Inggris tersedia untuk pembahasan ini. Maulana Sayyid Muhammad Ridhwi adalah penyusun sebuah buku yang memuat beberapa artikel yang sangat menarik berhubungan dengan sejarah tragedi Karbala. Lalu ada juga Al-Irsyad-nya Syeikh Mufid r.a.

Memperluas kesimpulan tertentu dari fakta-fakta yang diketahui adalah, menurut pendapat saya dan pendapat para ulama, tidak dapat disanggah. Sebagai contoh penggambaran emosi alamiah manusia, meskipun tidak diriwayatkan secara rinci dapat diperluas jika gambaran tersebut berada dalam batasan akal dan tidak menyimpang dari karakter orang-orang yang terlibat.

Beberapa orang maqaatil dapat melakukan kesaalahan berkenaan dengan pernyataan-pernyataan tertentu sebagai contoh, Thabari mencatat bahwa umur Imam Zainal Abidin a.s. dipertanyakan di Kufah dan beliau diuji untuk menentukan apakah ia telah mencapai bulugh (lihat Sejarah Al-Thabari, jilid XIX halaman 166). Syeikh Mufid menyatakan umur Imam keempat pada waktu itu adalah 23 tahun. Pada umur ini masyhur bahwa Imam telah menikah dan mempunyai seorang anak.

Terdapat banyak kontradiksi dalam maqaatil tetapi ini bukan berarti bahwa kita harus menolak setiap riwayat berkenaan dengan itu. Peristiwa rinci, dan kadang nama-nama yang terlibat di dalamnya, adalah sangat sulit untuk direkam secara akurat bahkan oleh riwayat seorang yang jujur dan perawi yang sangat teliti secara serentak sebagaimana peristiwa sebenarnya. Abu Mikhnaf memulai mengumpulkan sejarahnya, kebanyakan melalui cerita saksi mata lebih kurang 25 setelah tragedi tersebut. Ini penting bagi kita menjadi selektif agar senantiasa tetap berada dalam batas-batas akal. Agar dapat lebih selektif, kita harus mengetahui bahan sejarah apakah yang tersedia dan di mana kita dapat menemukannya.

Adalah bukan dalam cakupan artikel ini untuk mempersoalkan semua sumber sejarah. Saya hendak merujukkan pembaca kepada buku S.H.M. Jafri, The Origins and Early Development of Shi’a Islam, Bab 7 [Dalam edisi berbahasa Indonesia Dari Saqifah Hingga Imamah : Asal-usul dan Perkembangan Islam Syi’ah, terbitan Pustaka Hidayah, Jakarta – red.] Saya juga hendak merujukkan pembaca yang tertarik dengan pembahasan ini kepada karya-karya lain berikut ini :
Jilid tertentu dari Thabari yang telah disebutkan di atas Al-Irsyad oleh Syeikh Mufid.
Artikel tentang Imam Husain oleh Veccia Vaghliers dalam Encyclopedia of Islam yang banyak di dasarkan pada catatan Baladzuri.

G. Tujuan

Kita harus ingat bahwa hari ke-10 Muharram adalah sebuah periode yang penuh emosi dan emosi ini telah diramaikan oleh para ahli mimbar untuk : (1) mengantarkan pesan-pesan Karbala; (2) membangunkan kebencian terhadap semua yang dilakukan Yazid; dan (3) memperbaharui kembali sebuah komitmen kepada Islam sebagaimana didakwahkan oleh Ahlul Bait dan bagi tujuan yang mana Imam Husain telah curahkan seluruh hidupnya.

Kita tidak dapat mengabadikan ilusi bahwa aza’iyah Husain bermakna hanya sekadar beberapa tetes air mata, ma’tam and prosesi-prosesi. Ini semua adalah cara dan bukan akhir. Hal-hal tersebut hanya bermakna jika dapat membimbing kita menjadi seorang Syi’ah yang lebih baik daripada kita pada tahun yang lalu.

Jika kita kehilangan pandangan terhadap tujuan-tujuan tersebut, kita mungkin menemukan diri kita bertanggung jawab karena melupkan dan mengabaikan peristiwa yang mana para Imam kita telah berkorban begitu banyak !.

Imam Husain sendiri menasihati kaum muslimin yang mengaku sebagai seorang Syi’ah agar takut kepada Allah dan tidak membuat sebuah klaim palsu kalau pada hari kebangkitan nanti dia dibangkitkan bersama para pendusta. ”Syiah kami,” Imam menambahkan,”adalah orang yang hatinya suci dari kejahatan, penipuan, dan penyelewengan. Perkataannya dan perbuatannya adalah hanya untuk mendapatkan ridha Allah.”

Kita harus selama sepuluh hari pertama Muharram yang akan datang ini menetapkan sikap terhadap pertanyaan ini kepada diri kita dengan segala kesungguhan. Apakah kita siap membuat komitmen kepada tujuan-tujuan Imam Husain atau apakah kita bersedia melanjutkan dengan penuh keikhlasan pada keadaan kita saat ini, menunaikan apa yang dapat digambarkan dengan baik sebagai sebuah basa-basi terhadap kesyahidan beliau dengan hanya menunjukkan tangis saja ??

Seraya saya berdoa agar kita mulai, sebagaimana kita harus, mengerti filosofi dari aza’iyah Husain dan membuat suatu komitmen serius terhadap tujuan-tujuan dari Sang Pemuka Para syuhada, saya betul-betul berharap bahwa tidak akan pernah terjadi di suatu zaman ketika majlis-majlis digantikan oleh kuliah klinis mengabaikan semua emosi ! Akal ketika didukung oleh emosi memiliki efek yang lebih berkesan, dan dan terakhir sekali bahwa sebagai sebuah balasan secara rasional dari pesan Nabi Suci, beliau diberitahukan Allah agar tidak meminta balasan selain cinta kepada Ahlul Bait. Cinta, selama menjadi sebuah daya emosi, menjadi kemunafikan jika seseorang gagal untuk mengenali dan mengikuti keinginan dari orang yang dicintai.

Semoga seluruh Muharram kita menjadi demonstrasi dari kecintaan kita, dan sebuah titik temu emosi, akal, dan komitmen kepada Imam Husain a.s.

Referensi :

  1. Kitab Al-Irshad oleh Shaykh Mufid
  2. The History of Tabari, edisi berbahasa Inggris, jilid 19
  3. The Rising of al-Husayn oleh Shaykh Muhammad Mahdi Shams al-Deen
  4. Imam Husayn, the Saviour of Islam oleh Maulana Sayyid Muhammad Rizvi
  5. Al-Serat the Imam Husayn Conference Number, diterbitkan oleh the Muhammadi Trust, July 1984.
  6. The Origins and Early Development of Shi'a Islam, oleh S.H.M. Jafri
  7. Al-Tawhid, Vol. II No.1, editorial.
  8. Al Tawhid, Vol. XIII, No. 3, halaman 41 sampai 74, yang mengutip artikel karya Syahid Murtadha Muthaharri yang berjudul "Ashura : History and Popular Legend"
  9. The History of Azadari diterbitkan oleh Peermahomed Trust.


index buletin